Aturan Minum Obat TBC (Rifampicin, Isoniazid, dan Pyrazinamide)

Aturan minum obat TBC. Secara umum, ada tiga jenis obat yang biasanya dikonsumsi oleh penderita TBC, yaitu rifampicin, isoniazid, dan pyrazinamide.

TBC atau tuberkulosis adalah salah satu penyakit ganas yang dapat menyerang siapa saja. Faktanya, TBC adalah salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

TBC terjadi karena infeksi bakteri yang disebut mycobacterium tuberculosis. Infeksi tersebut bisa menyerang banyak organ tubuh manusia, paling umum di paru-paru.

Saat ini sudah tersedia pengobatan untuk TBC. Namun, orang dengan TBC harus berkomitmen mengonsumsi obat dalam jangka waktu panjang, hingga hitungan bulan atau bahkan tahun.

Pengobatan TBC juga harus disesuaikan dengan organ yang diserang. Secara umum ada beberapa jenis TBC sebagai berikut:

1. TB Paru

2. TB limfadenitis

3. TB tulang

4. TB milier

5. TB urogenital

6. TB liver

7. TB saluran pencernaan

8. TB meningitis

9. TB peritonitis

10. TB kulit

Umumnya dokter akan meresepkan salah satu dari tiga obat tersebut, rifampicin, isoniazid, atau pyrazinamide. Anda perlu mengikuti aturan minum obat TBC yang benar untuk mendapatkan efek maksimal.

Aturan minum obat TBC yang benar

Setiap obat-obatan tersebut harus dikonsumsi sesuai dengan resep dokter. Jangan konsumsi berlebihan, jangan konsumsi lebih sering, dan jangan konsumsi lebih lama dari instruksi.

Obat-obatan tersebut harus dikonsumsi dalam kondisi perut kosong, yaitu satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Konsumsi dengan segelas air.

Jika obat-obatan tersebut membuat perut Anda bermasalah, silakan konsumsi dengan makanan. Anda juga dapat mengonsumsi antasida.

Untuk menyembuhkan TBC secara optimal, obat tersebut harus dikonsumsi penuh sesuai dengan resep dan instruksi dokter. Jangan berhenti konsumsi obat meski Anda merasa sudah lebih baik.

Dokter mungkin menginstruksikan Anda untuk menambah konsumsi pyridoxine untuk mencegah atau mengurangi efek samping isoniazid.

Dosis obat tbc

Dosis obat-obatan tersebut mungkin berbeda untuk setiap pasien. Ikuti instruksi dokter Anda atau cara konsumsi obat yang tertulis di label.

Kali ini SehatQ hanya memberikan informasi dosis rata-rata. Jika dosis anda berbeda, jangan mengubahnya sendiri kecuali diinstruksikan oleh dokter.

Jumlah obat yang Anda konsumsi juga bergantung pada kekuatan obat tersebut. Ada beberapa pertimbangan lain seperti jumlah dosis dalam sehari, jangka waktu antara dosis, dan perencanaan panjang konsumsi obat.

  • Dewasa dan anak-anak 15 tahun atau lebih dengan berat badan 55 kg atau lebih: 6 tablet per hari
  • Dewasa dan anak-anak 15 tahun atau lebih dengan berat badan antara 45-54 kg: 5 tablet per hari
  • Dewasa dan anak-anak 15 tahun atau lebih dengan berat badan 44 kg atau di bawahnya: 4 tablet per hari
  • Anak-anak di bawah 15 tahun: Konsumsi obat sesuai dengan anjuran dokter

Rifampicin

  • Kapsul dalam dua dosis, 150mg dan 300mg Konsumsi dalam kondisi perut kosong
  • Rifampicin memengaruhi warna urin, keringat, air mata, hingga saliva Anda jadi sedikit oranye
  • Efek samping mungkin fokus di area perut, mual, dan hilang nafsu makan
  • Mungkin terjadi gatal-gatal ringan dan ruam kulit ringan
  • Rifampicin dapat mengurangi efektivitas pil KB

Isoniazid

  • Tablet kecil dalam dua dosis 100mg atau 300mg
  • Efek samping jarang terjadi, kadang-kadang muncul gejala ringan seperti mudah lelah dan kurang konsentrasi
  • Obat ini dapat memengarughi liver Anda. Segera temui dokter jika mengalami mual, muntah, sakit perut, hingga kulit kuning
  • Mungkin terjadi kesemutan di jari tangan dan kaki, dokter akan meresepkan vitamin B6

Pyrazinamide

  • Setiap tablet mengandung 500mg zat aktif pyrazinamide. Dokter akan menentukan dosis berdasarkan berat badan Anda
  • Efek samping yang umum terjadi adalah hilang nafsu makan dan mual
  • Sebagian orang mengalami rasa nyeri sendi
  • Kecil kemungkinan menimbulkan penyakit hati, tapi Anda mungkin merasa mual, muntah, atau sakit perut
  • Ada kemungkinan reaksi kulit seperti gatal-gatal atau ruam, tapi jarang terjadi

Nah itu dia aturan minum obat TBC yang perlu Anda perhatikan sesuai dengan kondisi Anda. Pastikan Anda mengonsumsi obat dengan rutin ya.

Perbedaan Cara Penularan Influenza dan Cara Penularan Covid-19

Perbedaan Cara Penularan Influenza dan Cara Penularan Covid-19

Baik cara penularan influenza yang memang agak mirip dengan Covid-19 hingga gejalanya, kedua penyakit ini memang sekilas tampak serupa. Tapi, influenza dan Covid-19 merupakan dua penyakit yang berbeda. Bahkan meski influenza pernah menjadi pandemi di masa lalu, obat untuk mengatasinya sudah ditemukan. Sayangnya, hal ini tidak berlaku dengan Covid-19.

Hingga kini, penelitian tentang Covid-19 masih dilakukan. Apalagi mengingat cepatnya virus ini memunculkan mutasi varian baru. Manusia seolah diajak berlomba-lomba dengan virus ini. Persamaan dan perbedaan antara influenza dengan Covid-19 sudah seharusnya jadi pegangan bagi masyarakat untuk mengetahui seperti apa saja cara penularan kedua penyakit ini.

Penularan yang Lebih Cepat

Covid-19 disebut sebagai penyakit yang lebih mudah ditularkan pada orang lain karena memiliki karakter asimptomatik pada beberapa orang. Asimptomatik adalah karakter tanpa gejala pada sebuah penyakit. Seperti yang sudah diketahui, ada beberapa penderita Covid-19 yang disebut sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) karena terjangkit virus Corona namun tak menunjukkan ciri-ciri apapun.

Sebenarnya influenza pun bisa jadi asimptomatik, tapi ketika influenza tersebar, maka ia masih bisa ditangani bahkan untuk orang dengan komorbid sekalipun. Sayangnya, ini nggak sama dengan Covid-19. Jika OTG menularkan Covid-19 pada orang dengan komorbid, maka risiko kematian yang ditulari akan lebih tinggi.

Masa Inkubasi Influenza vs Covid-19

Influenza memiliki masa inkubasi sekitar 3 hari, sehingga individu yang terjangkit bisa segera menyadari dan melakukan tindakan pengobatan dan pencegahan penularan. Sementara itu Covid-19 memiliki masa inkubasi 5 hari bahkan hingga 14 hari. Alhasil, pada masa-masa tersebut bisa saja pasien Covid-19 tidak menyadari kalau mereka sudah menularkan virus ke orang lain.

Jumlah Orang yang Ditularkan

Sebagai salah satu penyakit yang dianggap cukup ringan, satu orang dengan influenza dapat menularkan virusnya ke 1 hingga 1,3 orang. Sedangkan, angka ini justru lebih tinggi pada penderita Covid-19. Orang dengan virus Corona dapat menularkan virus ini hingga 2 kali lipat, yakni pada 2,5 orang.

Apalagi jika orang-orang tersebut tidak mematuhi protokol kesehatan yang diwajibkan oleh WHO seperti menjaga jarak, menggunakan masker, hingga mencuci tangan sebelum dan setelah memegang sesuatu.

Lokasi Penularan

Influenza tidak berbahaya ketika seseorang berada di dekat penderitanya pada jarak jauh, bahkan di dalam satu ruangan tertutup sekalipun. Namun, pada virus Corona, risiko terjangkit akan lebih tinggi ketika Anda berada di ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk dengan mereka.

Itulah mengapa persebaran virus Corona juga bisa lebih tinggi di dalam ruangan yang ber-AC. Apalagi jika yang menderita dan orang lain tidak menggunakan masker. Meskipun ada social distancing, risiko terjangkit penyakit tersebut masih tetap ada. Sehingga, masyarakat pun diminta untuk tetap menggunakan masker meskipun berada di dalam ruangan indoor demi menekan penularan virus Corona.

Hal ini jarang sekali ditemukan pada influenza. Sebab, selama Anda tidak berhadapan langsung tanpa pelindung seperti masker, berada dalam satu ruangan ber-AC dengan penderita influenza bukan suatu masalah yang berarti.

Nggak heran jika pemerintah dan lembaga-lembaga kesehatan lainnya menganjurkan agar Anda tetap berada di rumah. Pun jika hendak keluar sebaiknya beraktivitas di ruangan terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Sedangkan, jika harus berada di dalam ruangan, masker sebaiknya tetap digunakan, social distancing dipraktikkan, dan pastikan untuk tetap menjaga higienitas diri.

Cara penularan influenza yang tidak kasat mata inilah yang perlu diperhatikan. Tetap jaga jarak dan terapkan pola hidup sehat.

Bermasalah dengan Hiperpigmentasi? Cek Penyebabnya

Apakah di bagian tubuh terdapat area yang lebih gelap daripada warna kulit lainnya secara umum? Itu merupakan kondisi hiperpigmentasi. Kondisi ini secara sederhana terjadi ketika tubuh terlalu banyak memproduksi melanin. Melanin sendiri biasanya menjadi pemberi warna gelap untuk kulit mata dan rambut. Namun jika jumlahnya terlalu banyak dan tidak seimbang, produksi melanin tersebut hanya akan menggelapkan satu area kulit yang bisa merusak penampilan Anda. 

Proses menangani hiperpigmentasi tidaklah terlalu sulit, namun diperlukan kesabaran. Selain menggunakan resep dokter, Anda juga bisa menggunakan bahan-bahan alami guna bisa sedikit memudarkan hiperpigmentasi yang terjadi. 

Namun, Anda juga perlu tahu apa penyebab dari hiperpigmentasi yang menimpa Anda. Mengetahui penyebab akan membuat Anda lebih berhati-hati agar kejadian hiperpigmentasi tidak berulang terus menerus dan bagaimana cara pencegahannya. Berikut ini adalah beberapa penyebab hiperpigmentasi yang paling sering terjadi. 

Paparan Sinar Matahari 

Paparan sinar matahari adalah penyebab nomor satu hiperpigmentasi. Pasalnya, tubuh akan memproduksi melanin sebagai tabir surya alami kulit ketika mengalami paparan sinar matahari. Jika paparannya terlalu lama atau terlalu ekstrem, tentu produksi melaninnya menjadi bertambah banyak dan menyebabkan hiperpigmentasi. Biasanya, hiperpigmentasi yang disebabkan oleh paparan sinat matahari berupa bintik-bintik gelap yang ukurannya bisa berkembang. 

Pertambahan Usia 

Seiring bertambahnya usia kulit, jumlah sel penghasil melanin yang dikenal sebagai melanosit berkurang. Walaupun begitu, justru produksinya justru menjadi tidak merata dan menjadi sangat terfokus. Kondisi inilah yang membuat seiring pertambahan usia, risiko mengalami hiperpigmentasi di area tubuh tertentu menjadi lebih nyata. Hiperpigmentasinya sendiri berupa bintik-bintik gelap penuaan. Biasanya, hiperpigmentasi yang dipicu oleh pertambahan usia ini semakin mudah datang ketika usia Anda sudah menembus kepala empat. 

 Efek Penyakit 

Hati-hati, hiperpigmentasi bisa jadi merupakan gejala penyakit tertentu. Pasalnya, beberapa penyakit autoimun, pencernaan, maupun gangguan metabolisme sangat mudah mempengaruhi produksi hormon yang juga berpengaruh pada peningkatan melanin. Jadi jika Anda tiba-tiba mengalami hiperpigmentasi parah dan merasakan gejala atau keluhan kesehatan lain, segera berkonsultasi ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh. 

Penggunaan Obat Tertentu 

Selain karena dipicu penyakit, kondisi hiperpigmentasi juga dapat dipicu oleh penggunaan obat-obatan tertentu. Obat kemoterapi menjadi jenis obat yang sangat mudah meningkatkan produksi melanin dan melahirkan masalah hiperpigmentasi bagi Anda. Namun selain itu, beragam jenis antibiotik, obat antimalarial, sampai obat anti kejang juga berpotensi menimbulkan masalah hiperpigmentasi.

Kehamilan 

Pengaruh hormonal adalah penyebab utama dari jenis hiperpigmentasi tertentu yang dikenal sebagai melasma atau chloasma. Peristiwa ini sangat umum di kalangan wanita dan diperkirakan terjadi ketika hormon estrogen dan progesteron merangsang produksi melanin yang berlebihan. Wanita hamil khususnya akan lebih mudah mengalami jenis hiperpigmentasi ini. Pasalnya saat hamil, terjadi perubahan hormon secara drastis, tidak terkecuali hormon estrogen dan progesteron, yang berpengaruh pada produksi melanin. 

Kegemukan 

Berat badan yang berlebihan juga bisa memicu hiperpigmentasi. Soalnya, berat badan berlebih atau kondisi kegemukan bisa membuat terjadinya penumpukan lemak di area tertentu. Penumpukan lemak tersebut juga rentan terjadi di area-area kulit yang memiliki lipatan sehingga menimbulkan lipatan tambahan.

Pada lipatan inilah, mudah terjadi penumpukan keringat dan minyak, juga mudah terjadi penumpukan mikroorganisme. Tentunya yang tidak ketinggalan, hiperpigmentasi bisa terjadi di area lipatan kulit yang terbentuk dari tumpukan lemak tersebut sehingga lipatan menjadi lebih gelap. Hiperpigmentasi pada orang-orang yang memiliki berat badan berlebih juga bisa muncul karena adanya gesekan antar kulit yang berulang.

Jika ingin menghilangkan hiperpigmentasi, coba berkonsultasi langsung dengan dokter. Pasalnya, beberapa penyebab kondisi kelebihan produksi melanin ini sangat berhubungan dengan masalah kesehatan Anda. 

Apa yang Harus Dilakukan Saat Sakit Dada Sebelah Kiri?

Sakit dada sebelah kiri adalah salah satu gejala yang tidak bisa diabaikan. Memang benar sakit dada di posisi tersebut tidak selalu berarti ada masalah pada jantung, tapi bukan berarti bisa disepelekan.

Terkadang nyeri dada dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang cukup jinak dan tidak penting. Namun, juga benar bahwa nyeri dada dapat memberikan sinyal ada masalah yang mungkin mengancam jiwa. 

Nyeri dada tengah sampai ke punggung dapat disebabkan banyak penyakit.

Masalahnya, mengenali gejala sakit dada tertentu yang berbahaya dan tidak berbahaya juga tidak mudah. Salah mengambil keputusan bisa berakibat fatal.

Untuk itu, apa yang harus dilakukan saat sakit dada sebelah kiri?

Sakit dada, apa artinya?

Sakit dada bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi medis. Sebagian kondisi minor, sebagian lebih serius.

Selain itu, gejala nyeri dada sangat bervariasi dan berbeda-beda setiap orang, tergantung kondisi.  Oleh sebab itu, sebenarnya tidak ada aturan pasti kapan harus bergegas ke IGD.

Terkadang, sakit dada ringan bisa menjadi pertanda gejala jantung koroner. Namun, sekitar 30% serangan jantung disertai dengan gejala yang sangat sepele, bahkan jarang dikenali oleh penderita.

Apa yang harus dilakukan saat sakit dada sebelah kiri?

Ada beberapa pedoman yang mungkin bisa membantu Anda menyikapi sakit dada sebelah kiri. Mungkin pedoman ini bisa membantu Anda memutuskan apakah sakit dada tersebut termasuk gejala serius.

Namun, perlu diingat bahwa pedoman ini bisa Anda abaikan. Sebaiknya Anda mengutamakan prinsip “lebih baik aman daripada menyesal”, jadi tidak ada salahnya bergegas ke dokter jika merasakan sakit dada sebelah kiri.

Ada beberapa pertanda sakit dada mungkin disebabkan oleh kondisi serius, di antaranya:

  • Jika Anda berusia 40 tahun atau lebih dan memiliki lebih dari satu faktor risiko (seperti riwayat penyakit, perokok, obesitas, kolesterol naik, dan diabetes)
  • Ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga
  • Rasa sakit disertai dengan sesak, dada seperti diremas, terasa berat, atau ada sensasi dada hancur
  • Rasa sakit disertai dengan badan lemas, mual, berkeringat, pusing, atau pingsan
  • Sakit menyebar hingga ke bahu, lengan, atau rahang
  • Sakit lebih buruk dari yang pernah Anda rasakan sebelumnya
  • Rasa sakit memburuk dalam 10-15 menit pertama

Berikutnya, ada beberapa pertanda bahwa sakit dada tidak terlalu serius dan tidak mengkhawatirkan, yaitu:

  • Rasa sakit hanya muncul ketika Anda membuat gerakan tubuh tertentu, dan terulang setiap gerakan tersebut dilakukan
  • Rasa sakit cepat berlalu, tidak ada gejala lain

Catatan

Tentunya, jika Anda mengenali gejala sakit dada sebelah kiri yang terbilang serius, sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter atau mendatangi IGD.

Meski begitu, perlu diingat bahwa rasa sakit yang tidak terlalu parah juga bisa menjadi pertanda masalah serius. Jika nyeri dada terasa tidak biasa atau mengganggu, Anda harus segera memeriksakan diri.

Bahkan jika rasa sakitnya tidak terlalu parah, Anda sebaiknya membicarakan gejala tersebut dengan dokter.